mahardika
July 26th, 2008 by onabutuh waktu hampir dua puluh lima tahun (assuming the first ten years of my life is a clueless periode) untuk mengerti suatu kata sederhana: “merdeka”.
pada awalnya, kata merdeka selalu mengingatkan dengan sesuatu yang jauh..penjajah belanda & jepang, soekarno-hatta, cokroaminoto, pak dirman, natsir, tan malaka, dan 17 agustus.
sejak gue kerja kantoran, konsep merdeka mulai menjadi sesuatu yang sangat sangat dekat. kata-kata “maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan” seakan-akan menjadi rentetan kata-kata yang relevan untuk diucapkan kepada bos kita, bos-nya bos kita dan kepada kumpulan orang yang lebih abstrak: manajemen, headquarter, corporate dan shareholder.
tapi itu hanya trigger yang membawa gue kepada rentetan penjajahan yang dimulai sejak balita. mengingatkan gue bahwa penjajahan lebih banyak terjadi karena niat baik. dibangku sekolah, setiap akhir masa pelajaran, kita akan ditanya tentang rangking dan nilai. ada yang serius, lebih banyak hanya untuk basa-basi (just to make a bridging coversation before making a more serious conversation). pertanyaan tentang rangkin dan nilai mungkin adalah salah satu pertanyaan yang menjajah kita (setidaknya gue).
ketika lulus kuliah, maka kita akan mendapat banyak pertanyaan, udah kerja atau belum,dsb. ketika sudah mapan bekerja, maka pertanyaan berikutnya akan berada disekitar kapan kita kawin? sudah ada calon atau belum? tergantung tingkat perhatian teman dan keluarga kita, beberapa tipe orang akan bertindak lebih proaktif dengan menjodoh-jodohkan.
dan jika kita sudah menikah, maka pertanyaan yang menjadi rutin adalah tentang kehadiran anak diantara kita. jika jawaban kita belum ada, maka pertanyaan menjadi awal dari saran tentang jamu, obat, dokter yang bisa membantu kita.
seringkali pertanyaan-pertanyaan diungkapkan tanpa niat jelek, malah kebanyakan dalam niat yang tulus. tapi disadari atau tidak (setidaknya dalam kasus gue) pertanyaan-pertanyaan itu membuat gue dalam keadaan tidak merdeka….apalagi dalam banyak situasi, pertanyaan itu hanya untuk basa-basi doang..
gue sempet sharing tentang pemikiran ini ke temen yang udah menikah, punya anak dan cukup mapan secara ekonomi. dia cerita bahwa dalam keadaan seperti diapun pressure-pressure seperti itu masih berlanjut bahkan makin besar…jika anak kita sudah mulai sekolah, maka banyak pertanyaan tentang DIMANA sekolahnya..apakah sekolah yang bagus (artinya mahal) atau favorit? apakah anaknya mendapat rangking di sekolah? (dan ini adalah titik dimana kita sebagai orangtua mulai mengerti mengapa kita perlu menanyakan anak kita tentang rangking? dan dititik ini pula kita sebagai orangtua mulai melupakan pengalaman kita dlulu sebagai anak jika mendapat pertanyaan tentang rangking).
belum lagi pertanyaan tentang rumah, kendaraan, investasi…;)
yang makin mengingatkan gue tentang hayalan gue di tahun 95; sebagai seorang pegawai magang di sebuah perusahaan manufaktur di pulogadung. dengan gaji 500 ribu, gue menghayal betapa nikmatnya dunia jika gaji gue dinaikin 2x lipat menjadi 1 juta… setahun kemudian, gue pindah ke sebuah perusahaan di sumatera yang bukan hanya menaikkan 2x tapi lebih…beberapa saat kemudian gue sudah merasakan bahwa hidup gue akan lebih nikmat jika gaji gue naik 2x lipat lagi…
butuh lebih dari dua puluh lima tahun untuk memahami semua itu..
bahwa pada dasarnya, ketakutan, pressure, kekhawatiran, dan apa yang gue kejar semuanya tergantung dari gue sendiri
tidak masalah berapa gaji gue, berapa rumah atau harta…tanpa mengingat lagi apa tujuan gue..semua akan menjadi jalan jalur cepat yang tak berujung
dalam hidup ini, pada dasarnya gue ingin menjadi merdeka dalam skala yang paling pribadi.
bukan sesuatu yang baru gue pikirkan tapi terlalu sering gue lupain